Monday, 4 August 2014

First Love and Romance

Setiap pukul 9.30 aku selalu menunggunya di kursi tempat biasa aku dan teman-teman berbincang-bincang menghabiskan waktu istirahat.Setiap habis dari kantin aku sih berharap orang yang selama ini aku sukai melewati tempat dimana kami sedang duduk. Memang sih dia dan teman-temannya melewati tempat itu untuk menuju kekantin. Setiap kali dia lewat aku selalu terpesona dengan senyuman yang selalu ia bagikan kepada setiap orang yang ia temui. Tak banyak ingin ku, aku hanya ingin melihat dia disekolah ini sampai aku lulus. Namun apa daya dia sekarang sedang duduk di bangku SMA kelas 3 yang tak lama lagi akan melaksanakan Ujian Nasional dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi.



Terpintas dalam benak ku untuk menyapanya, tetapi jarak di antara aku dan dia yang terlalu jauh membuat aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan sambil terus memandanginya dengan penuh pesona. Sungguh bagaikan bidadari yang turun dari khayangan yang sedang mencari sebuah selendang yang hilang layaknya seperti kisah Jaka Tarub. Setiap bel istiharat pertama berbunyi aku selalu menunggunya ditempat yang selalu ia lewati, sambil berharap-harap cemas ia akan memberikan senyumannya kepada ku.
Pukul 09.30.  Cewek itu keluar dari kelasnya dan berjalan menuju kantin bersama teman-temannya seperti biasa. Aku juga tahu bahwa sekitar lima menit lagi ia akan kembali kekelasnya dengan membawakan sebungkus nasi dan sebotol air mineral yang akan dia habiskan dalam waktu 20 menit, kemudian ia pergi ke toilet untuk mencuci tangannya. Namun, karena hari ini cuaca tidak begitu baik karena hujan turun cukup deras, dia hanya duduk di depan kelasnya sambil berbincang-bincang bersama temannya dan tak akan ada senyuman manis yang terlontarkan dari bibir yang bisa aku lihat pada hari ini.

Sedih rasanya tak melihat seseorang yang telah mencuri hati ini tak bisa aku lihat karena cuaca yang kurang bersahabat. Seperti halnya dia, aku juga hanya bisa berdiam diri dikelas sambil melihat tetesan air hujan yang turun dari langit. Bosan rasanya berdiam diri dikelas sambil memperhatikan hal-hal yang tidak penting, terpintas dibenak ku untuk mempostingkan rasa gundah gulana yang sedang aku alami ini di Twitter.
Secara kebetulan dia telah terlebih dahulu follow akun saya, jadi saha harap dia akan membaca tweet saya itu. Tak butuh waktu lama untuk berpikir kata-kata apa yang akan aku tweet, sepintas telah terbayangkan. Tak butuh waktu lama aku langsung nge-tweet. Aku tak pernah berpikir dan berharap dia kan meretweet apalagi memfavoritkan tweet ku, hanya saja itu hanya sebuah ungkapan hati yang sedang galau. Ya, galau yang sedang menjadi bahasan anak muda masa kini yang sedang jatuh cinta secara diam-diam.
Entah ketagihan atau memang suka nge-tweet yang galau-galau, hamper setiap hari aku sering nge-tweet hal-hal yang seperti itu.  Ya apa mungkin ini sudah jalannya atau mungkin hanya sebuah kebetulan, entah bagaimana sering sekali para followers ku meretweet apa yang aku tweet. Yang twitter dulunya tabs mention itu sepinya kaya kuburan kini ramai. Aku kira dia ada didalam salah satu retweeters ku. Setiap hari aku memeriksa tabs mention ku. Ternyata dia tidak pernah meretweet apa yang aku tweet. Ya apa boleh buat itu adalah hak dia yang mempunyai kuasa atas akunnya.

Waktu tepat menunjukkan pukul 11.00 hari yang tadinya turun hujan begitu deras kini perlahan-lahan mulai reda dan sang surya yang tadinya tak terlihat kini sudah mulai berani menampakkan dirinya untuk menyinari siang yang indah ini
Perut terasa lapar akibat dari pagi tadi tidak sarapan karena bangun yang super-super terlambat dari biasanya dan sekolah yang hari senin itu masuknya pukul 6:15. Duh hanya bisa menahan lapar dengan memakan sebutir permen yang kutemukan di saku baju sekolah ku. Berpura-pura meminta izin kepada guru untuk pergi ke toilet karena sudah kebelet pengen buang air kecil, ya aku sih yakin Pak Guru akan mengizinkan ku tanpa ada sedikit pun kecurigaan yang mendalam.
Seperti dugaan ku  hal ini berjalan dengan lancar, aku bergegas pergi kekantin untuk mengisi perut ku yang kosong ini. Maklum sejak SD sudah mengidap penyakit Maag, biasa penyakit anak kost. Tak kusangka ternyata oh ternyata dia sang bidadari yang hari ini tak bisa ku lihat pun ada dikantin sedang asyik menyantap makanan yang dia beli. Huh, jantung mulai berdebar tak beraturan. Bergegas aku memesan makanan dan bergegas pula aku menyantapnya.

Dia ternyata masih membeli sebotol minuman ringan seperti biasanya, tapi kali ini dia sendirian tanpa ada kawalan dari teman-temannya. Sehabis dari kantin aku menuju ke toilet untuk membasahi rambut sembari merapikan baju agar terlihat dari toilet. Entah mimpi apa semalam, mungkin mimpi kejatuhan durian super runtuh kali ya. Aku secara tak sengaja bertabrakan dengan dia sampai-sampai minuman ringan yang ia bawakan pun tumpah berceceran. Wow, sungguh memalukan bagiku. Aku  langsung meminta maaf atas kejadian yang aku alami ini. Dalam benakku mungkin saja dia akan menampar ku layaknya sebuah FTV pada biasanya atau akan memarahiku sambil menyuruhku untuk menggantinya.

“Maaf ya Kak, Aku lagi buru-buru aku ga sengaja beneran deh. Aku ganti aja deh minuman kakak. Aku ganti gimana kak? Berlagak sok oke biar dianggap lelaki gitu. Padahal mah uang dikantong udah kosong dan kantong pun isinya berubah menjadi sarang laba-laba yang sangat menyeramkan sekali. Dalam hati aku berkata

“ Duh, sialan mana uang udah habis lagi moga aja Ya Allah dia lagi berbaik hati dan gak lagi PMS “. Wow doa ku pun terkabulkan, dia hanya berkata “ Udah, gak apa-apa kok, ga usah diganti juga kali, lagian ini juga salah aku kok jalan ga liat-liat. Tuh kan celana kamu jadi basah kena minuman kakak..
Tak ku sangka dia memang bidadari yang turun dari khayangan, udah cantik, baik aduh kurang apa lagi coba.
“ Ya udah deh kak, aku juga minta maaf nih, oh ya kak nama kakak itu siapa ya? Kalo boleh tau nih” Tanya ku berlaga sok kenal sok dekat.
“Oh nama aku, Panggil aja Sasha. Nama lengkap ku Sasha Zalianti. Kalo kamu siapa?” Jawabnya sambil mengeluarkan sehelai tisu.
“Wah nama yang indah seperti orang nya, panggil aja Al kak, nama lengkap aku Al..fiandi Basyari” Jawabku sambil gugup.
“Oh Al yang lagi trend itu ya, haha, kamu punya selera humoris juga ya, aku duluan ya Al nanti kalo ada waktu kita ngobrol-ngobrol lagi kaya nya sih seru ngobrol sama cowok yang humoris kaya kamu” Jawabnya.
“Iiiiiya kak duh biasa aja deh, jadi ma..”  Dia langsung memotong pembicaraan ku sambil memberikan aku sehelai tisu bertujuan untuk membersihkan celana ku yang terkena tetesan dari minumannya tadi.
“Nih tisu untuk bersihiin celana kamu ntar dikirain pipis di celana lagi kakak duluan ya” katanya
“Oh makasih kak, ah si kakak mah biasa aja deh, oh iya kak hati-hati kak” Jawabku

Dia bergegas menuju kelasnya. Dikelas aku hanya membayangkan hal yang baru saja aku alami. Sampai bel istirahat kedua berbunyi aku hanya melamun. Apakah mungkin tadi itu adalah langkah awal ku untuk berkenalan lebih jauh dengannya. Handphone berbunyi, aku kira kali ini operator yang mengirimkan pesan menyuruhku untuk melakukan pengisian ulang. Ternyata dugaan ku kali ini salah, ternyata pemberitahuan dari Twitter yang memberitahukan ada sesuatu yang membuatku penasaran dari tabs mention. Setelah ku buka ternyata kakak yang bernama Sasha Zalianti meretweet apa yang aku tweet. Isi tweet nya : Ada yang lagi kangen, ada yang lagi saying sama kamu tapi malu untuk di ungkapkan.
Dalam hati aku bertanya-tanya kok si dia kenapa secara tiba-tiba retweet tweet ku yang ini ya? Apakah akibat dari kejadian tadi? Tak lama berselang dia memintaku untuk mengikuti dia kembali. Bagiku hal ini sangat menggembirakan, tanpa pikir panjang langsung aku mengikutinya kembali. Beberapa lama setelah itu kami sering saling membalas pesan singkat. Namun aku berpikir walaupun dia mau membalas pesan singkat ku belun tentu dia mau membalas cintaku.
Entah mengapa dia tak pernah tau bahwa aku selama ini mengagumi dan selalu memperhatikannya. Apakah dia tidak mengetahuinya atau berpura-pura tidak mengetahuinya?

Ya, aku selalu mengangguminya. Setiap istirahat, aku menyempatkan diri untuk melihatnya memberikan senyuman kepada semua orang dan menyempatkan diri ku untuk memberikannya semangat untuk menjalankan pagi ini.  Bahkan aku tak pernah lupa mengirimkannya pesan : “Semangat kak moga hari-harimu indah. Fighting!. Terkadang kami saling menyemangati satu sama lainnya.
Setelah bel istirahat berbunyi aku bergegas keluar kelas. Lalu aku pergi ke atap untuk melihatnya. Dari atap gedung aku bisa melihat burung-burung berterbangan, mereka menikmati cahaya mentari yang sesekali timbul saat musim hujan. Aku bisa tersenyum dalam belenggu luka ini karena hanya dapat melihatnya dari jarak yang cukup jauh. Sama sepertiku, ia menatap langit. Aku tak bisa mendekatinya karena aku tak cukup berani untuk menyapanya karena disana ada banyak sekali temannya. Aku melihatnya begitu tenang dalam menata kehidupan, aku takut jika aku masuk ke dalamnya, maka aku akan mengguncang air yang tenang.
Aku tiba di rumahku hampir tengah malam karena Aryo, temanku mengajaku untuk merayakan ulang tahun Clara, pacarnya yang juga adalah sahabat baikku. Dalam hati aku bertanya-tanya tumben-tumbennya hari ini dia tak sempat membalaskan pesan ku satupun. Aku hanya piker dia sedang sibuk karena Ujian Nasional tinggal 2 hari lagi. Yasudahlah kali aja dia lagi belajar buat UN.

Seperti biasa setiap istirahat selalu diriku menyempatkan untuk melihatnya, namun tak ada dirinya. Senyuman khas yang selalu ia berikan pun hari ini taka da tanpa keterangan yang jelas. Setelah UN seluruh angkatan kelas 12 tak ada lagi disekolah mereka telah sibuk sendiri menentukan Perguruan Tinggi mana yang akan mereka pilih. Sama seperti yang dia lakukan, dirinya sibuk mengurusi persyaratan-persyaratan menuju Perguruan Tinggi ternama di kota Bandung.

Aku sempatkan diriku untuk menemuinya di kediamannya. Aku hanya bisa memberikannya semangat dan doa agar dia bias masuk ke Perguruan Tinggi yang selama ini telah ia impikan. Terlihat jelaslah raut bahagia yang ia pancarkan dari wajahnya yang cantik itu dia sunggu antusia menunggu hasil SNMPTN dengan berharap ia akan lulus.

Tanggal 20 Mei 2013. Pengumuman SNMPTN pun terbit, paginya dia sibuk mencari-cari informasi mengenai daftar nama siswa/siswi yang lolos SNMPTN, ternyata namanya ada diantara ribuan nama yang lolos. Dia sungguh senang bias masuk Perguruan Tinggi yang dia idam-idamkan. Ponsel ku pun berdering kulihat ada sebuah pesan singkat yang masuk, ternyata dia mengabari ku bahwa dia akan berangkat ke kota Bandung 1 minggu lagi. Ya aku pun ikut senang sambil mengingatkan dirinya untuk bersyukur atas segala pemberian yang Tuhan berikan.

1 tahun kemudian. Jantungpun berdetak dengan kencang menunggu hasil kelulusan dengan berharap cemas aku akan kuliah di Bandung untuk menyusul dirinya yang kini sudah menginjak semester 3 di fakultas kedokteran. Sebenarnya ini sudahlah menjadi keinginanku sejak dulu untuk merintis karier di kota Bandung. Usut punya usut katanya sih aku lulus dengan nilai rata-rata 8,34 dan diterima di Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia. Tapi tetap saja aku tidak percaya itu hanya berita angina yang diberitahukan oleh temanku saja
Tibalah pengumuman kelulusan, jantung semakin berdetak dengan kencang tanpa beraturan. Ternyata apa yang diberitahukan oleh temanku itu benar-benar terjadi. Entah kebetulan belaka ataupun di telah pergi ke tukang ramal untuk mencari informasi tersebut. Bagiku itu tak penting yang penting aku bias melanjutkan kuliah di kota Bandung. Ku kirimkan dirinya yang selama ini sudah lama tak aku kasih kabar. Ketika ku beritahukan bahwa aku tak lama lagi akan menyusul dirinya ke Bandung, sontak saja di terkejut dan mengucapkan selamat. Dia berharap maish bias bertemu denganku dan bercanda ria seperti waktu di SMA.

Pertama pergi kesana aku binggung untuk tinggal dimana, ku telepon saja Paman ku yang tinggal di apartemen dekat pusat kota Bandung. Ternyata dia memperbolehkan aku untuk sementara tinggal di apartemennya. Legalah rasanya hati ini telah menemukan tempat tinggal untuk sementara. Suatu pagi ketika aku hendak keluar untuk menghirup segarnya udara pagi, kamar didepan ku itu adalah kamar milik seorang wanita yang selama ini aku kagumi.
Aku pun terkejut melihat dirinya yang kini sudah lebih tinggi dariku dan lebih cantik dari sebelumnya.
“Tinggal di apartemen ini juga ya kak? Sama siapa? Kok bisa kebetulan giniya? Tanyaku sambil penuh keheranan.
“Ia nih Di, aku sih sama Tante disini tapi dia jarang pulang karena banyaknya kerjaan diluar kota. Mungkin ini sudah jadi rencana Tuhan kali” Jawabnya
“Mau kemana nih kak, pagi-pagi begini? Mau sarapan ya?” Tanya ku
“Aku sih mau turun kebawah ya sekedar olahraga kecil-kecil mau ngurusin badan nih, mau ikut ga? Nanti habis itu sekalian sarapan gitu” Ajaknya sambil memegang tanganku
“Boleh deh kalo gitu” Jawabku dengan penuh senyuman
Setiap pagi kami selalu melakukan aktifitas seperti itu dan setiap hari aku sering pergi bersama dirinya.  Dan setiap pagi selalu aku antarkan dia sebungkus roti dan segelas susu. Pengen rasanya hati ini mengungkapkan rasa yang selama ini aku pendam, tapi malu takutnya dirinya sudah punya seseorang yang ia cintai. Hari itu jadwal di kampus cukup padat sehingga mengharuskan aku pulang hingga larut malam, maklum sedang sibuk mengurusi acara ulang tahun kampus. Ketika sampai di apartemen aku berencana untuk mengajak Sasha makan, tapi aku piker dia sudah tidur jam segini.

Kamar nomor 145 tidak tertutup rapat, “Permisi Kak Sasha.” Panggilku sambul mengetuk pintunya, tidak ada jawaban. Bermenit-menit kemudian barulah aku memberanikan diri untuk menerobos masuk. Dan ternyata benar, aku mendapati wanita tergeletak lemah di bawah tempat tidur, aku membuang beberapa tablet obat… mungkin racun atau obat penenang dari tangannya.
“Kak Sasha? Anda dapat mendengar saya?” aku mengguncang-guncangkan bahunya, sama sekali tak ada respon, tanpa kusadari air mataku mengalir, di dalam hati aku memohon: Tuhan, jangan ambil dia.

Aku mengangkatnya di bahuku, membawanya berlari menuju tempat parkir. Aku meletakan wanita itu di bangku sebelahku. Tidak biasanya aku seperti ini, untuk seorang yang sudah lama kukenali  ini adalah pertama kalinya aku merasa takut, dalam hidupku. Bahkan saat di pemakaman ayah, juga ketika di meja operasi

Aku melaju dengan kecepatan penuh, dadaku sesak, air mataku tak berhenti mengalir ketika sesekali aku memandang ke arahnya. Sekilas aku melihat bayangan wajah ibuku, Raya adikku, mereka tersenyum padaku. Juga Pesta kecil-kecilan yang aku dan Aryo buat untuk Clara.

Aku melihat sinar mobil di depanku semakin lama semakin menyilaukan mata. Aku menghitung mundur dan berkata sekali lagi dalam hati: Untuk orang-orang yang kucintai, Tuhan, jangan ambil dia. Aku berharap orang yang selama ini aku cintai bisa hidup dan terus tersenyum. Tak kuasa bagiku kehilang orang yang selama ini mengisi hari-hariku pergi begitu saja meninggalkan diriku
Sesampai di rumah sakit dia langsung dibawa kemeja operasi, aku bertanya kepada seorang dokter apakah wanita ini memakan obat penenang atau meminum racun. Ternyata dia mengalami serangan jantung, tak lama kemudia dia menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam hati aku menangis melihat tubuhnya terbaring lemas. Ingin rasanya hati ini menangis sekeras mungkin yang tak rela melepas kepergiannya ke pangkuan yang Maha Kuasa.

Tak ada kata terakhir yang ia ucapkan dan tak ada keinginan terakhir yang ia sampaikan pada ku. Hanya saja sebuah kata-kata yang selalu ia sampaikan padaku yang tak akan pernah aku lupakan. Setiap hari dia selalu menyemangatiku dengan berkata : “Jika merasa tak punya apa-apa untuk berbagi, ingatlah kamu masih bisa membagikan senyumanmu kepada orang lain”.

Dari SMA aku tak pernah terbayangkan apa maksud dari kata-kata yang selalu ia berikan padaku. Hari ini jelaslah misteri dari kata-kata itu, dia selalu memberikan senyumannya pada orang lain dibalik senyuman manis yang ia berikan tersimpan sebuah penyakit yang tak ingin ia bagikan kepada orang yang ia cintai. Mungkin saja ia tak mau melihat orang yang ia cintai sedih karena penyakit yang ia alami.
1 bulan kemudian.

09.00 am. Aku tak lagi melihat wanita itu memasuki pintu di ujung sana. Tidak juga melihatnya duduk di meja nomor Lima Belas. Tak ada yang akan aku antarkan coklat panas tepat pada 09.05 am. Aku juga tak lagi menyiapkan sebungkus roti atau sebotol susu coklat untuk diletakan di depan pintu apartemennya. Namun aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke atap gedung dan berkata pada Tuhan.
Tuhan jika dia benar-benar bidadari yang turun dari langit, aku tak akan mau melihat bidadari-bidadari lain yang tersenyum sambil menyimpan rasa sakit yang ia alami.

Lalu aku mengeluarkan sebuah diary merah, tiap kali melihatnya aku merasa terluka. Ya, akhirnya aku tahu bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, tapi takdir mengantarku pada kenyataan lain. Semua tulisanya menceritakan tentang aku, dia tahu bahwa setiap pagi aku mengirimkan sebungkus roti dan sekotak susu di depan pintu kamarnya. Kakak itu, dia berusaha untuk tidak terlambat melihatku pada pukul 09.00 am. Sama sepertiku ia merasa bahagia ketika pertama kali mendengar suaraku, juga menatap mataku. Teringat dalam benakku kejadian pertama aku berjumpa dirinya di toilet sekolah.
Hingga saat ini aku selalu menangis ketika mengingat dirinya yang selalu membuat diriku tertawa, yang selalu menyemangatiku ketika diriku sedang sedih, tapi aku tak pernah tahu bahwa dirinya mengidap sebuah penyakit yang cukup parah, mungkin jika aku tahu, aku akan memberikan jantung ini untuk membuatnya bisa tetap tersenyum manis.

No comments:

Post a Comment